اَلْحَمْدُ لِلَّهِ نَحمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَىٰ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَىٰ آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ
قَالَ تَعَالَى فِي القُرْآنِ الكَرِيمِ
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Subhanahu wa ta’ala, dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Karena sesungguhnya, sebaik-baik bekal kita menghadap Allah adalah takwa.
Pada khutbah yang mulia ini, kita akan merenungi sebuah ayat Al-Qur’an yang sarat makna, yang memberikan harapan besar bagi setiap hamba-Nya yang merasa terpuruk dalam dosa. Ayat ini adalah seruan agung dari Allah Subhanahu wa ta’ala yang menunjukkan betapa luasnya ampunan-Nya.
Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman dalam Surah Az-Zumar ayat 53:
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
“Katakanlah, ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.”
Ayat yang mulia ini adalah salah satu ayat yang paling memberikan harapan dan motivasi bagi umat Muslim. Mari kita telaah lebih dalam maknanya:
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ
Katakanlah, ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri!’
- Seruan Langsung dari Allah: Allah tidak berfirman, “Wahai orang-orang saleh,” atau “Wahai orang-orang yang taat.” Tapi justru Allah memanggil “hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri.” Ini adalah panggilan kasih sayang dari Allah kepada mereka yang telah banyak berbuat dosa, bahkan dosa-dosa besar, yang mungkin merasa putus asa dengan banyaknya kesalahan yang telah dilakukan.
أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ
“melampaui batas terhadap diri mereka sendiri“
- Frasa ini menggambarkan orang-orang yang telah banyak melakukan kemaksiatan, yang telah zalim terhadap diri mereka sendiri dengan melanggar perintah Allah. Dosa-dosa mereka mungkin telah menumpuk, bahkan mungkin telah menjadi kebiasaan.
لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ
Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah
- Larangan Berputus Asa: Ini adalah perintah tegas untuk tidak pernah berputus asa dari rahmat dan ampunan Allah. Putus asa dari rahmat Allah adalah dosa besar, karena itu berarti kita meragukan kemahaluasan ampunan-Nya. Setan suka menanamkan keputusasaan ini agar manusia terus terjerumus dalam dosa dan tidak bertaubat.
إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا
Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya
- Ampunan yang Menyeluruh: Kata “jami’an” (semuanya) menunjukkan bahwa Allah mampu mengampuni segala jenis dosa, baik dosa kecil maupun dosa besar, selama itu bukan dosa syirik (menyekutukan Allah) yang tidak diikuti dengan taubat sebelum kematian.
Pengecualian Syirik Tanpa Taubat: Penting untuk diingat firman Allah dalam Surah An-Nisa’ ayat 48:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.”
Ayat ini tidak bertentangan dengan Az-Zumar 53, karena Az-Zumar 53 berbicara tentang orang yang bertaubat. Jika seseorang bertaubat dari syirik sebelum meninggal, Allah akan mengampuninya. Namun, jika meninggal dalam keadaan syirik tanpa taubat, maka itu dosa yang tidak diampuni.
إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang
- Penegasan Sifat Allah: Ayat ini ditutup dengan dua nama agung Allah, Al-Ghafur (Maha Pengampun) dan Ar-Rahim (Maha Penyayang). Ini adalah penegasan bahwa ampunan dan kasih sayang adalah sifat dasar Allah Subhanahu wa ta’ala. Dia mengampuni bukan karena butuh, tapi karena kasih sayang-Nya kepada hamba-Nya.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Ayat ini memberikan beberapa pelajaran penting bagi kita:
- Jangan Pernah Putus Asa dari Rahmat Allah: Sekelam apapun masa lalu kita, sebanyak apapun dosa kita, pintu taubat dan ampunan Allah selalu terbuka lebar. Ini adalah motivasi terbesar untuk tidak menyerah dalam beribadah dan selalu kembali kepada-Nya.
- Pentingnya Segera Bertaubat: Meskipun ampunan Allah luas, bukan berarti kita bisa menunda taubat atau meremehkan dosa. Justru karena luasnya ampunan-Nya, kita didorong untuk segera kembali kepada-Nya dengan taubat nasuha. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda, “Orang yang bertaubat dari dosa seperti orang yang tidak berdosa.” (HR. Ibnu Majah).
- Perbaiki Diri dan Jangan Kembali ke Dosa: Taubat yang sungguh-sungguh tidak hanya menyesali dosa masa lalu, tetapi juga berkomitmen untuk tidak mengulanginya lagi dan berusaha memperbaiki diri serta memperbanyak amal kebaikan.
- Menumbuhkan Harapan dan Rasa Syukur: Ayat ini harus menumbuhkan harapan dalam hati kita sekaligus rasa syukur yang mendalam atas kemurahan Allah yang tiada batas.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Pesan dari Surah Az-Zumar ayat 53 adalah pelita di tengah kegelapan dosa. Ini adalah janji agung dari Rabb kita yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Jangan biarkan setan membisikkan keputusasaan dalam hati kita. Segera bangkit, bertaubatlah dengan sungguh-sungguh, dan kembalilah ke jalan Allah. Sesungguhnya, Allah Maha Mengampuni segala dosa, Dia adalah Al-Ghafur, Ar-Rahim.
بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ
أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ، وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
Khutbah Kedua
ٱلْـحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ، كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَـٰهَ إِلَّا ٱللَّهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
Saudaraku, setelah kita merenungkan makna dari Surah Az-Zumar ayat 53, mari kita ingat bahwa kesempatan untuk bertaubat tidak terbatas waktu. Selama kita masih hidup, selama kita masih diberikan waktu, pintu ampunan Allah senantiasa terbuka lebar. Maka, mari kita manfaatkan waktu ini untuk memperbaiki diri, memperbanyak istighfar, dan berusaha lebih dekat kepada Allah.
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda: “Sesungguhnya Allah lebih gembira dengan taubat hamba-Nya yang kembali kepada-Nya, daripada seorang yang tersesat di padang pasir dan menemukan kembali unta yang hilang.” (HR. Bukhari)
Semoga khutbah ini dapat menjadi pengingat bagi kita semua untuk selalu berharap pada ampunan Allah dan tidak pernah berputus asa dalam meraih rahmat-Nya. Semoga kita menjadi hamba yang senantiasa bertaubat dan kembali kepada-Nya. Saudaraku, marilah kita bersama-sama berdoa:
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ، يَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ.
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا، وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ، وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.
عبادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأمُرُ بِالعَدلِ وَالإِحسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي القُربَى، وَيَنهَى عَنِ الفَحشَاءِ وَالمُنكَرِ وَالبَغيِ، يَعِظُكُم لَعَلَّكُم تَذَكَّرُونَ.
أَقِمِ الصَّلَاةَ، يَرْحَمْكُمُ اللهُ.
